Rabu, 23 Maret 2011

KEBUDAYAAN BENUA AMERIKA

Arsitektur Awal Amerika karya Bangsa Indian

Presiden AS George W Bush, baru saja singgah di Bali untuk berdialog dengan tokoh-tokoh agama yang ada di Indonesia tentang masalah terorisme. Sebagai negara besar, AS memang sering bersikap kontroversial. Termasuk terhadap arsitektur lokal bangsa Indian, setelah Amerika ditemukan oleh bangsa Eropa.
AMERIKA ditemukan oleh Christopher Colombus (Cristoforo Colombo), yang lahir di Genoa Italia utara pada 1451. Benua Amerika yang ditemukan itu adalah benua Amerika bagian selatan pada 14 Agustus 1498. Tetapi secara diam-diam Amerigo Vespucci, teman dalam ekspedisinya menyeberangi Samudera Atlantik dari Spanyol, membuat laporan lebih rinci tentang penemuan benua Amerika dan memajukan dua tahun dari tanggal yang sebenarnya tercantum dalam laporan pelayaran Colombus kepada Raja Spanyol. Akhirnya Amerigo Vespucci yang mendapat penghargaan sebagai penemu benua Amerika, walaupun telah mengkhianati Colombus. Nama ''Amerigo'' kemudian diabadikan jadi nama benua ''Amerika''.
Karena sakit, Columbus sendiri sampai akhir hayatnya 20 Mei 1506, tidak tahu bahwa dirinya telah menemukan benua Amerika bagian selatan. Dalam keyakinannya, itulah benua Asia yang ditulis dalam laporan Marcopolo pada abad ke-13 sebagai benua yang kaya akan emas.
Arsitektur Indian
Sebelum orang-orang kulit putih dari Eropa menjajah sampai ke benua Amerika, sebenarnya di sana sudah ada kebudayaan-kebudayaan yang disebut Amerindia atau kebudayaan pra-Colombus. Disebut begitu, sebab sebelum Colombus menemukan Amerika Latin, di Amerika telah ada kebudayaan penduduk asli. Disebut juga kebudayaan Amerindia, dimaksudkan untuk membedakannya dengan kebudayaan India yang ada di Asia. Berdasarkan pengkajian sejarah, ada gejala-gejala yang menunjukkan bahwa asal dan akar kebudayaan bangsa Indian di benua Amerika seperti ada hubungan dengan benua Asia. Menurut perkiraan para arkeolog, pada zaman batu telah terjadi migrasi bangsa Asia timur laut ke benua Amerika.
Para ahli sejarah kemudian mencoba mengelompokkan kebudayaan Amerika menjadi empat masa. Pertama, masa kejayaan pribumi asli antara 500 SM - abad ke-16 Masehi. Kedua, masa kolonial antara abad ke-16 s.d. abad ke-19. Ketiga, tahap nasional baru yang berlangsung antara abad ke-19 s.d. 1930. Keempat, masa peradaban Amerika modern sejak 1930.
Pada masa kejayaan pribumi asli, di benua Amerika tengah (Meksiko, Guatemala dan Honduras) telah berkembang beberapa kebudayaan suku bangsa Indian. Antara 500 SM - 800 Masehi berkembang kebudayaan suku bangsa Indian Maya. Menyusul antara 800 - 1200 kebudayaan Indian Toltek, Indian Aztek (1200 - 1519) dan di Peru kebudayaan suku bangsa Indian Inka (1100 - 1500).
Pada masa kejayaan peradaban Maya, seni pahat atau patung dan keramik memiliki kedudukan yang amat penting, selain arsitektur. Hubungan antara seni pahat dengan arsitektur begitu erat. Sehingga beberapa wujud bangunan arsitektur kesannya seperti pahatan-pahatan raksasa.
Pada saat itu, bahan bangunan terpenting adalah batu. Kemahiran memecah dan mengukir batu-batu besar sungguh luar biasa. Balok-balok batu yang besar disusun dengan rapi dan diperkuat dengan jangka-jangka dari logam tak berkarat. Pada masa itu, selain konstruksi balok susun dan tiang kubah, telah dikenal pula konstruksi lengkung. Kemudian telah dilakukan juga teknik pembuatan bangunan tembok-tembok batu dengan teknik sambungan vertikal yang lurus, bukan dengan teknik penumpukan mendatar. Salah satu monumen dari kebudayaan Maya adalah sisa-sisa bangunan yang ada di Labna, Yucatan.
Peradaban Maya di daerah Honduras dan Guatemala adalah pemuja Dewa Matahari, sehingga mereka membangun bangunan-bangunan untuk upacara keagamaan di bukit-bukit dalam bentuk piramida-piramida tangga. Salah satu peninggalannya adalah piramida untuk memuja Dewa Matahari di San Juan Teotihuakan. Piramida yang dibangun pada 800 Masehi ini memiliki tinggi 66 meter dan sisi alas bangunannya 210 meter.
Setelah kebudayaan Maya menyurut, berkembanglah kebudayaan suku bangsa Indian Toltek antara 800 - 1200. Sebagian dari ahli-ahli purbakala menggolongkan suku bangsa ini sebagai penerus peradaban Maya. Ketika kebudayaan India Toltek berkembang, suku bangsa ini telah mampu membangun kota-kota yang megah. Bangunan-bangunannya yang dibuat dari bahan batu, terlihat hampir tidak berjendela, tetapi penuh dengan ukiran. Bangunan peninggalan suku bangsa Toltek yang terlihat masih utuh adalah arena permainan bola di Kopan dan bangunan observatori untuk mengamati bintang-bintang di angkasa terdapat di Chichen Itza, yang diperkirakan dibangunan pada 1200.
Kemudian pada 1200-1519 berkembanglah kebudayaan suku bangsa Indian-Aztek. Suku Aztek juga memuja Dewa Matahari sebagai dewa tertinggi. Para masa ini berkembang suatu upacara yang mengorbankan manusia hidup-hidup sebagai persembahan kepada dewa. Sisa-sisa bangunan bekas tempat upacara tersebut bernama Istana Maut, dibangun pada 1100 di Milta. Bangunan itu terdiri dari pintu gerbang dan juga merupakan monolit-monolit.
Pusat kebudayaan Aztek terletak di danau Texcoco dengan Ibu kota Tenochtitlan. Saat bangsa Spanyol mereka kota ini dan menancapkan kuku kolonialismenya, keadaan kota ini jauh lebih hebat dari dari kota-kota di Eropa pada masanya. Sekarang Kota Tenochitlan disebut Mexico City.
Setelah kebudayaan Aztec menyurut, di kawasan Peru kemudian berkembang perabahan Inka. Kebudayaan bangsa Inka berkembang antara 1100-1500, ibukotanya Inka adalah Cuaco, kotanya dibangun dengan megah. Tetapi pendatang-pendatnag dari Spanyol yang menancapkan kuku kolonialismenya pada pertengahan abad ke-16, telah memusnahkan pusat kota peradaban Inka tersebut. Kota tua lain yang terkenal pada masa kebudayaan Inka adalah Kota Socsahuaman yang dilengkapi benteng pertahanan tiga lapis dan dilengkapi menara.
Selain itu, kota tua yang dibangun di atas puncak Gunung Machu Picchu pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, merupakan kota tua yang konsepsi kemudian mengilhami pengembangan teori-teori baru dalam arsitektur pada abad ke-19. Teori baru ini dikenal dengan The Charter of Machu Picchu, yang menekankan agar arsitektur dibangun lebih teratur, lebih mementingkan manusia dan memperhatikan alam maupun lingkungan hidup.
Pada masanya, teknik bangunan batu yang dikembangkan suku bangsa Inka sudah sangat tinggi. Selain menggunakan batu-batu persegi, mereka juga mengembangkan teknik bangunan batu poligonal (segi banyak) atau bangunan batu lebih dari empat sudut.
Kehebatan peradaban kebudayaan bangsa Indian di Amerika tengah ini, tidak hanya dalam wujud bangunan-bangunan batu, kubu-kubu pertahanan dan kota di puncak bukit yang sangat tinggi, tetapi juga dalam bentuk jembatan gantung 12.000 km (7000 mil) di atas sungai. Ada juga gambar-gambar di atas bukit dan lembah yang panjangnya ribuan kilometer, yang hanya bisa dilihat dari udara. Para ahli menduga, gambar ini merupakan tanda-tanda khusus untuk penerbangan luar angkasa. Tetapi beberapa tahun silam ada peneliti yang mengungkapkan dalam siaran televisi ilmu pengetahuan, bahwa gambar-gambar ini berkaitan dengan ''Jam Matahari'' untuk membantu aktivitas pertanian. Dengan menancapkan tongkat-tongkat kayu pada titik tertentu, suku bangsa ini akan tahu kapan musim tanam tiba, yaitu dengan melihat jatuhnya bayangan tongkat pada siang hari dan rasi bintang pada malam hari.
Peradaban Baru
Setelah Colombus menemukan benua Amerika bagian selatan, negara-negara di Eropa tertarik untuk mengetahui dan menguasai hasil bumi serta hasil tambang benua baru ini. Akhirnya terjadilah kolonialisme yang dimulai dari kedatangan orang-orang Eropa yang ditugaskan oleh negaranya untuk menetap dan menguasai benua Amerirka. Proses ''pembaratan'' benua Amerika berlangsung tidak bersamaan waktunya. Proses pembaratan di Amerika Selatan (Latin) berlangsung antara abad ke-16 s.d. ke-19, di Amerika utara (USA) abad ke-17 s.d. ke-18 dan di Canada pada abad ke-14. Sejak itu timbullah peradaban dengan corak baru di Amerika, yaitu peradaban yang memiliki anasir Eropa, tetapi bercorak kedaerahan dari bangsa-bangsa imigran. Peradaban inilah yang lazim disebut kebudayaan Amerika (non-Indian).
Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi perselisihan antara negara induk dengan daerah-daerah jajahan di Amerika yang memuncak dengan ''perceraian radikal''. Alasan-alasan untuk melapaskan diri dari negara induk, serta azas-azas yang menjadi dasar bagi negara baru yang bernama Amerika, diuraikan seluruhnya pada Proklamasi Kemerdekaan (Declaration of Independence) 4 Juli 1776, disusun oleh Thomas Jefferson, yang kemudian menjadi presiden AS ketiga. Setelah memerdekakan diri, bangsa Amerika kemudian tampil penuh percaya diri dan mengembangkan nilai-nilai baru. Sebagai kelompok bangsa pendatang, mereka sepakat untuk melepaskan beban kultural dari bangsa dan negara induknya di Eropa. Sebab, mereka telah datang dan mengadu peruntungan di Amerika penuh dengan jiwa petualangan. Jiwa avonturisme inilah yang telah merasuk ke dalam sikap perilaku bangsa Amerika non Indian, sehingga mereka merasa menjadi bangsa penakluk dan harus menjadi yang nomor satu.
Beberapa arsitek Eropa yang tergabung dalam Kelompok Bauhaus di Jerman, akhirnya pindah ke Amerika untuk menghindari tindakan kesewenang-wenangan Hitler. Akhirnya di Amerika kiprah mereka berkembang, yang menyebabkan nama mereka disegani dalam kancah arsitektur modern. Seperti antara lain Walter Gropius, Ludwig Mies van der Rohe dan Le Corbusier. Mereka juga menghargai dan mengagumi karya arsitektur peradaban Amerika asli yang sisa-sisa peninggalan arsitekturnya masih bisa ditemukan di Amerika tengah. Apalagi hasil karya arsitektur penduduk asli Amerika adalah karya local genius yang telah melebihi kehebatan arsitektur bangsa Eropa pada masanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar